KENDARI — Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Fakultas Kehutanan, kembali membuktikan komitmennya dalam menghasilkan inovasi berkelanjutan. Melalui kolaborasi intensif antara dosen dan mahasiswa, tim peneliti berhasil mengembangkan teknologi drone generasi terbaru untuk pemantauan ekosistem hutan mangrove di Sulawesi Tenggara. Penelitian yang dimulai sejak awal tahun 2025 ini telah memasuki fase pengujian lapangan dan menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan untuk pengelolaan sumber daya hutan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem paling krusial di wilayah Sulawesi Tenggara, namun pemantauannya masih menghadapi berbagai kendala teknis dan logistik. Inisiatif penelitian ini lahir dari kekhawatiran mendalam mengenai degradasi hutan mangrove yang terus berkembang di kawasan pesisir Kendari dan sekitarnya. Dengan mengintegrasikan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) berspesifikasi khusus, sensor multispektral canggih, dan analisis data berbasis artificial intelligence, tim peneliti Unismuh Kendari menciptakan solusi monitoring yang dapat mendeteksi perubahan lingkungan secara real-time dengan akurasi tinggi.
“Kami melihat urgensitas untuk menghadirkan cara baru dalam pemantauan hutan mangrove yang tidak hanya lebih akurat, tetapi juga lebih terjangkau dan ramah lingkungan,” ungkap Dr. Bambang Sutrisno, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers yang diselenggarakan di kampus pada Rabu, 03 April 2026. Beliau menambahkan bahwa penelitian ini mencerminkan dedikasi institusi dalam memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan lingkungan Sulawesi Tenggara.
Latar Belakang Penelitian dan Motivasi Ilmiah
Hutan mangrove di Sulawesi Tenggara telah mengalami penurunan luasan yang signifikan dalam dua dekade terakhir. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa rata-rata hilangnya mangrove mencapai 2-3 persen per tahun di kawasan ini. Degradasi ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari pembangunan infrastruktur, perluasan tambak udang, hingga dampak perubahan iklim global yang mengakibatkan kenaikan permukaan air laut.
Metode pemantauan konvensional melalui survei lapangan langsung dinilai kurang efisien karena terbatas pada area yang terjangkau secara geografis, memerlukan waktu yang lama, dan memiliki tingkat akurasi yang bergantung pada interpretasi manusia. Oleh karena itu, tim peneliti Fakultas Kehutanan Unismuh Kendari melihat peluang untuk mengembangkan sistem otomatis yang mampu mengatasi keterbatasan tersebut.
Penelitian ini merupakan bagian dari skema penelitian yang didukung penuh oleh Rektorat Universitas Muhammadiyah Kendari melalui Program Insentif Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PIPPM) tahun akademik 2025-2026. Dengan alokasi dana sebesar Rp 450 juta, tim peneliti mendapatkan dukungan finansial yang memadai untuk mengembangkan prototype hingga fase pengujian lapangan yang komprehensif.
Teknologi Inovatif dan Metodologi Penelitian
Inti dari inovasi ini adalah pengembangan platform drone khusus yang dilengkapi dengan sensor multispektral beresolusi tinggi dan kamera RGB dengan spesifikasi profesional. Berbeda dengan drone komersial standar yang hanya mampu mengambil foto visual biasa, sistem yang dikembangkan oleh tim Unismuh Kendari dapat menangkap data dalam multiple spektrum cahaya, termasuk inframerah dan near-infrared, yang sangat berguna untuk analisis kesehatan vegetasi mangrove.
“Drone yang kami kembangkan memiliki beberapa keunggulan dibanding teknologi sejenis yang ada di pasaran,” jelas Dr. Sutrisno. “Selain lebih affordable untuk institusi penelitian seperti universitas, sistem ini juga dilengkapi dengan algoritma machine learning yang kami training khusus untuk mengenali karakteristik unik mangrove di Sulawesi Tenggara. Kemampuan ini memungkinkan deteksi dini terhadap stress mangrove sebelum degradasi parah terjadi.”
Tim peneliti terdiri dari lima dosen senior di Fakultas Kehutanan, dua orang peneliti dari Universitas Tadulako Palu, dan sebelas mahasiswa tingkat akhir yang berasal dari berbagai program studi di fakultas. Kolaborasi lintas universitas ini menciptakan ekosistem penelitian yang kaya dengan perspektif dan keahlian interdisipliner. Mahasiswa yang terlibat tidak hanya berperan sebagai asisten penelitian, tetapi juga berkontribusi aktif dalam pengembangan metodologi dan interpretasi data.
Salah satu mahasiswa peneliti, Siti Nurhaliza dari Program Studi Manajemen Hutan Lestari semester delapan, mengungkapkan pengalamannya dalam proyek ini. “Dari awal penelitian, kami tidak hanya diajarkan bagaimana mengoperasikan drone atau menganalisis data, tetapi juga dilibatkan dalam setiap fase pengambilan keputusan ilmiah. Ini adalah pembelajaran yang tidak bisa kami dapatkan dari kelas biasa. Kami memahami bagaimana sains benar-benar bekerja—dengan trial, error, revisi, dan improvement berkelanjutan,” ujarnya dengan antusias.
Fase Pengujian Lapangan dan Hasil Awal
Sejak Januari 2026, tim peneliti telah menyelenggarakan serangkaian flight test di tiga lokasi utama mangrove di Sulawesi Tenggara: kawasan mangrove Kampung Lama Kendari, hutan mangrove Taman Nasional Wakatobi, dan kawasan mangrove Kabupaten Konawe Selatan. Setiap lokasi dipilih berdasarkan karakteristik ekologis yang berbeda untuk memastikan sistem dapat berfungsi optimal di berbagai kondisi lapangan.
Hasil pengujian awal menunjukkan tingkat akurasi deteksi vegetasi mangrove mencapai 94,7 persen dengan error margin yang sangat minimal. Sistem juga berhasil mengidentifikasi area mangrove yang mengalami stress hidrologis dan stress karena intrusi air asin dengan presisi yang menggembirakan. Data yang dikumpulkan selama empat bulan pengujian telah menghasilkan database spasial yang komprehensif tentang kondisi kesehatan mangrove di ketiga lokasi penelitian.
“Kami juga telah mengembangkan dashboard interaktif berbasis web yang dapat diakses oleh stakeholder lokal, pemerintah daerah, dan organisasi lingkungan untuk real-time monitoring,” tambah Dr. Samsul Bahri, Koordinator Penelitian dari Fakultas Kehutanan Unismuh Kendari. “Data yang kami hasilkan bukan hanya untuk publikasi akademik, tetapi untuk pengambilan keputusan praktis dalam manajemen hutan mangrove. Kami sangat yakin bahwa inovasi ini akan menjadi tool yang valuable bagi policy makers di Sulawesi Tenggara.”
Dampak dan Kontribusi bagi Masyarakat Luas
Lebih dari sekadar prestasi akademik, penelitian ini membawa dampak praktis yang signifikan. Dengan sistem monitoring otomatis yang efisien, biaya pemantauan hutan mangrove dapat ditekan hingga 60 persen dibandingkan metode konvensional. Efisiensi ini memungkinkan pemantauan yang lebih frekuen dan coverage area yang lebih luas dengan resources yang sama.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara telah menunjukkan minat serius terhadap teknologi ini. Sekretaris Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tenggara, Ir. Hendra Suryanto, M.Sc., menyatakan komitmennya dalam sebuah pertemuan dengan tim peneliti Unismuh Kendari. “Teknologi yang dikembangkan oleh Universitas Muhammadiyah Kendari ini sangat relevan dengan kebutuhan kami untuk memperkuat sistem monitoring hutan di Sulawesi Tenggara. Kami sedang mempertimbangkan untuk mengintegrasikan platform ini dalam strategi manajemen hutan mangrove jangka panjang yang kami rencanakankan,” ujar Ir. Hendra dalam sebuah diskusi lokal yang dihadiri oleh media massa lokal.
Selain kontribusi lingkungan, penelitian ini juga memberikan nilai tambah dalam pengembangan kapabilitas sumber daya manusia. Mahasiswa yang terlibat dalam proyek ini telah mempresentasikan temuan mereka di forum akademik regional dan nasional. Dua publikasi sudah dalam tahap finalisasi untuk diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus, memposisikan Universitas Muhammadiyah Kendari sebagai contributor aktif dalam literatur ilmiah kehutanan global.
Dukungan Institusional dan Visi Ke Depan
Keberhasilan penelitian ini tidak lepas dari dukungan penuh dari pimpinan Universitas Muhammadiyah Kendari. Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. H. Masrun, S.E., M.Si., menekankan pentingnya inovasi dalam mencapai visi universitas sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang kontributif bagi masyarakat Sulawesi Tenggara.
“Universitas Muhammadiyah Kendari berkomitmen untuk menjadi motor penggerak inovasi di wilayah timur Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Kehutanan ini adalah bukti nyata dari dedikasi kami. Kami akan terus memberikan dukungan fasilitas, pendanaan, dan ekosistem penelitian yang kondusif untuk mendorong lebih banyak inovasi serupa,” kata Prof. Masrun dalam pernyataan resminya.
Tim peneliti telah merencanakan fase pengembangan lanjutan yang lebih ambisius. Dalam tahun akademik 2026-2027, mereka akan melakukan integrasi dengan sistem early warning system untuk deteksi ancaman kebakaran hutan mangrove. Rencana jangka panjang juga mencakup pengembangan aplikasi mobile yang user-friendly sehingga pemantau hutan lokal dan masyarakat dapat mengakses data monitoring dengan mudah.
Penutup dan Harapan Masa Depan
Penelitian tentang pengembangan teknologi drone untuk monitoring hutan mangrove yang dilakukan oleh dosen dan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Muhammadiyah Kendari mewakili semangat inovasi dan dedikasi institusi pendidikan dalam menghadapi tantangan lingkungan kontemporer. Dengan kombinasi keahlian akademik, teknologi terkini, dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, tim peneliti telah menciptakan solusi yang tidak hanya relevan secara ilmiah tetapi juga praktis dalam implementasi.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi penelitian-penelitian serupa di institusi pendidikan lain di Indonesia, khususnya di wilayah timur yang memiliki kekayaan hutan mangrove yang sama strategisnya. Dengan terus mengembangkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan, Universitas Muhammadiyah Kendari merealisasikan moto utamanya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pengembangan ilmu untuk kemakmuran dan keberlanjutan.
Penelitian ini juga menjadi pengingat penting bahwa solusi terhadap krisis lingkungan global tidak harus datang dari institusi besar di pusat kota, tetapi dapat lahir dari dedikasi dan kreativitas akademisi di universitas regional yang berani berinovasi dan berkomitmen pada kebenaran ilmiah serta kemanfaatan sosial.